Bestprofit | Data Kerja AS Malam Ini, Emas Bisa Meledak?
- PT Bestprofit Futures Malang
- Dec 16, 2025
- 3 min read
Bestprofit (16/12) – Harga emas global bergerak relatif stabil pada awal sesi perdagangan Asia hari ini. Pelaku pasar tampak menahan diri dan memilih sikap “wait and see” menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang sangat dinanti, yakni laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan November. Data ini dipandang krusial karena berpotensi mengubah arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sekaligus memengaruhi pergerakan dolar dan aset safe haven seperti emas.

Untuk sementara waktu, harga emas spot nyaris tidak mengalami perubahan signifikan dan bertahan di kisaran US$4.306,60 per ons. Stabilnya harga ini mencerminkan kehati-hatian investor yang belum berani mengambil posisi besar sebelum mendapatkan kejelasan dari data ekonomi utama tersebut.
Nonfarm Payrolls Jadi Penentu Arah Pasar Global
Nonfarm Payrolls merupakan salah satu indikator ekonomi paling penting di Amerika Serikat. Laporan ini mencerminkan jumlah tenaga kerja baru di luar sektor pertanian dan sering dijadikan barometer kesehatan ekonomi AS. Selain itu, NFP juga memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Menurut analis pasar di FOREX.com, Fawad Razaqzada, konsensus pasar saat ini memperkirakan pertambahan tenaga kerja hanya sekitar +50.000. Angka tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan lapangan kerja AS dalam beberapa tahun terakhir. Di saat yang sama, tingkat pengangguran diperkirakan naik ke 4,5%, sebuah sinyal yang mengindikasikan potensi pelemahan ekonomi.
Jika proyeksi ini terbukti benar, maka pasar bisa menilai bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum, terutama di tengah tekanan suku bunga tinggi yang sudah berlangsung cukup lama.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Sinyal Perlambatan Ekonomi AS Mulai Terlihat
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah indikator ekonomi AS memang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Aktivitas manufaktur melemah, belanja konsumen mulai melandai, dan pasar tenaga kerja yang sebelumnya sangat ketat kini mulai menunjukkan celah.
Kenaikan tingkat pengangguran ke level 4,5%—jika terealisasi—akan menjadi sinyal penting bahwa kebijakan moneter ketat The Fed mulai berdampak nyata terhadap ekonomi riil. Hal ini bisa mengubah narasi pasar dari “higher for longer” menuju ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Bagi pasar emas, kondisi ekonomi yang melambat biasanya menjadi katalis positif. Emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan risiko resesi.
Dampak Data NFP terhadap Kebijakan The Fed
The Fed selama ini sangat bergantung pada data (data dependent) dalam menentukan arah kebijakan suku bunganya. Laporan NFP menjadi salah satu referensi utama, selain inflasi dan data pertumbuhan ekonomi.
Jika data ketenagakerjaan kali ini lebih lemah dari perkiraan pasar—atau bahkan menunjukkan kejutan penurunan—keyakinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga lebih cepat bisa menguat. Ekspektasi ini biasanya langsung tercermin pada pergerakan pasar obligasi dan nilai tukar dolar AS.
Penurunan ekspektasi suku bunga akan mendorong yield obligasi pemerintah AS turun, sekaligus melemahkan dolar. Kondisi ini secara historis sangat menguntungkan bagi harga emas.
Hubungan Suku Bunga, Dolar, dan Harga Emas
Emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Oleh karena itu, ketika suku bunga tinggi dan yield obligasi meningkat, emas cenderung kurang menarik dibandingkan aset berbunga. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, daya tarik emas meningkat.
Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed biasanya diikuti oleh pelemahan dolar AS. Karena emas diperdagangkan dalam dolar, pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga permintaan global berpotensi meningkat.
Inilah alasan mengapa Fawad Razaqzada menyebut pelemahan dolar dan yield sebagai “bahan bakar” bagi reli harga emas. Kombinasi faktor tersebut sering kali menjadi pemicu kenaikan emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Investor Emas Masih Menunggu Konfirmasi
Meskipun potensi kenaikan harga emas terbuka lebar, investor saat ini cenderung menahan diri. Pergerakan emas yang cenderung datar menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin dengan arah selanjutnya.
Banyak pelaku pasar memilih untuk menunggu konfirmasi dari data NFP sebelum mengambil keputusan. Jika data sesuai atau lebih kuat dari perkiraan, emas berpotensi tertekan karena dolar dan yield bisa kembali menguat. Sebaliknya, jika data mengecewakan, harga emas bisa mendapat dorongan signifikan dalam waktu singkat.
Prospek Jangka Pendek Harga Emas
Dalam jangka pendek, volatilitas harga emas diperkirakan akan meningkat setelah rilis laporan NFP. Level psikologis dan teknikal akan kembali diuji, terutama jika pasar mendapatkan kejutan dari data ketenagakerjaan.
Apabila data NFP benar-benar menunjukkan pelemahan signifikan, emas berpeluang menembus level resistensi terdekat dan melanjutkan tren kenaikan. Namun, jika data relatif solid, emas kemungkinan akan kembali bergerak sideways atau mengalami koreksi terbatas.
Kesimpulan: Emas Menunggu Momentum
Stabilnya harga emas di awal sesi Asia mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis data Nonfarm Payrolls AS. Dengan proyeksi pertumbuhan tenaga kerja yang rendah dan tingkat pengangguran yang meningkat, risiko kejutan data tetap terbuka.
Jika ekonomi AS benar-benar menunjukkan tanda perlambatan, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bisa semakin menguat—sebuah kondisi yang secara historis mendukung kenaikan harga emas. Untuk saat ini, emas masih “menahan napas”, menunggu momentum besar yang kemungkinan akan ditentukan oleh satu laporan penting: Nonfarm Payrolls.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!






Comments