top of page
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • LinkedIn Social Icon
  • Facebook Social Icon
Search

Bestprofit | Emas Rebound di Tengah Tekanan The Fed

PT Bestprofit Futures Malang
15 hours ago
5 min read

Bestprofit (29/9) – Harga emas kembali bergerak menguat pada perdagangan Selasa setelah mengalami tekanan cukup dalam pada sesi sebelumnya. Penguatan tersebut terjadi ketika aksi jual obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury mulai mereda, memberikan sedikit ruang bagi logam mulia untuk memulihkan sebagian kerugiannya.

Meski demikian, pergerakan harga emas masih menghadapi sejumlah tekanan. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya harga minyak mentah menjadi faktor yang membatasi potensi penguatan emas dalam jangka pendek.

Harga emas spot tercatat naik sekitar 0,6% menjadi US$4.140,21 per ounce. Kenaikan ini terjadi setelah harga emas anjlok hampir 4% pada perdagangan Senin dan sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan.

Harga Emas Mulai Pulih Setelah Anjlok Tajam

Pergerakan harga emas pada awal pekan menunjukkan tingginya volatilitas di pasar keuangan global. Setelah mengalami penurunan hampir 4% pada sesi Senin, harga emas mencoba melakukan pemulihan pada perdagangan berikutnya.

Kenaikan sekitar 0,6% tersebut menunjukkan adanya aksi beli ketika harga mulai memasuki area yang dianggap menarik oleh sebagian pelaku pasar. Namun, pemulihan itu masih terbatas karena investor tetap memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.

Emas pada dasarnya merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Oleh sebab itu, ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas relatif dapat berkurang dibandingkan beberapa waktu terakhir. Perubahan ekspektasi terhadap inflasi dan kebijakan moneter membuat investor instrumen yang memberikan yield.

Situasi tersebut menjadi semakin penting karena pasar obligasi AS mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Perubahan ekspektasi terhadap inflasi dan kebijakan moneter membuat investor melakukan penyesuaian portofolio, termasuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah.

Kunjungi juga : bestprofit futures

Yield Treasury AS Tetap Menjadi Perhatian

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan emas adalah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun. Yield tersebut berada di sekitar 5,23% setelah sebelumnya mencapai ekonomi ketika memperoleh pembiayaan. Bagi pasar keuangan, pergerakan yield Treasury juga menjadi salah terhadap harga emas karena investor memiliki alternatif aset dengan imbal hasil yang lebih menarik. Sebaliknya, ketika yield mulai turun level tertinggi dalam 19 tahun.

Kenaikan yield menunjukkan meningkatnya biaya yang harus ditanggung pemerintah maupun pelaku ekonomi ketika memperoleh pembiayaan. Bagi pasar keuangan, pergerakan yield Treasury juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan valuasi berbagai aset, termasuk emas.

Kenaikan yield biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas karena investor memiliki alternatif aset dengan imbal hasil yang lebih menarik. Sebaliknya, ketika yield mulai turun atau tekanan di pasar obligasi mereda, emas dapat memperoleh ruang untuk kembali menguat.

Dalam kondisi saat ini, meredanya aksi jual Treasury memberikan sedikit dukungan bagi emas. Namun, level yield yang perkembangan harga minyak mentah. Harga minyak Brent tercatat mengalami kenaikan selama dua hari berturut-turut seiring meningkatnya masih tinggi menunjukkan bahwa tekanan terhadap logam mulia belum sepenuhnya berakhir.

Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Kembali Menguat

Selain pasar obligasi, investor emas juga memperhatikan perkembangan harga minyak mentah. Harga minyak Brent tercatat mengalami kenaikan selama dua hari berturut-turut seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam inflasi. Apabila harga minyak bertahan tinggi atau kembali meningkat, tekanan inflasi dapat menjadi lebih sulit emas, situasi tersebut menciptakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, ekspektasi su Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi sentimen investor, terutama melalui untuk mereda.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan The Fed. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda kembali menguat, bank sentral AS dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Bagi emas, situasi tersebut menciptakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan bunga.

Ketegangan AS-Iran Menambah Ketidakpastian Pasar

Faktor geopolitik juga menjadi perhatian utama pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi sentimen investor, terutama melalui potensi gangguan terhadap pasokan energi dan jalur perdagangan internasional.

Pejabat Iran menyatakan keraguan mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilu sela AS pada November. Situasi semakin Setiap gangguan terhadap aktivitas di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai Meningkatnya ketidakpastian biasanya mendukung permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, jika ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak dan inflasi, pasar dapat kembali mengantisip terlihat jelas dari kinerja sepanjang September. Harga logam mulia tersebut telah turun sekitar 7% perubahan sentimen yang cukup signifikan dibandingkan ketika emas berada di level tertinguju pada fungsi emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Namun, perubahan ekspektasi kompleks setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam perdagangan energi dunia. Setiap gangguan terhadap aktivitas di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak global.

Bagi pasar emas, perkembangan geopolitik seperti ini dapat menciptakan dua dampak yang berlawanan. Meningkatnya ketidakpastian biasanya mendukung permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, jika ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak dan inflasi, pasar dapat kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Emas Turun Signifikan Sepanjang September

Tekanan terhadap emas terlihat jelas dari kinerja sepanjang September. Harga logam mulia tersebut telah turun sekitar 7% setelah sebelumnya mencapai rekor di kisaran US$4.510 per ounce.

Penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan sentimen yang cukup signifikan dibandingkan ketika emas berada di level tertingginya.

Pada saat harga emas berada di sekitar US$4.500 per ounce, perhatian pasar lebih banyak tertuju pada fungsi emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Namun, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS kemudian membuat investor kembali mempertimbangkan daya tarik aset berbasis yield.

Kondisi ini membuat pemulihan emas berpotensi berlangsung tidak mulus. Investor masih akan mencermati apakah penurunan tajam sebelumnya hanya merupakan koreksi sementara atau bagian dari perubahan tren pasar tenaga kerja dan membantu investor menilai seberapa besar ruang bagi The Fed untuk mempertahankan atau mengubah kebijakan suku bungabila data ekonomi menunjukkan inflasi masih kuat dan pasar tenaga kerja tetap solid, ekspekt level tinggi, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, apabila tekanan di pasar obligasi semakin mereda dan investor kembali meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, emas dapat memperoleh ruang untuk demikian, kenaikan harga emas pada perdagangan Selasa belum dapat dipandang sebagai perubahan arah yang pasti. Penguatan tersebut lebih mencerminkan upaya pemulihan setelah penurunan tajam sebelumnya, sementara investor yang lebih panjang.

Data PCE dan NFP Jadi Penentu Arah Pasar

Perhatian investor kini beralih kepada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed.

Data Personal Consumption Expenditures (PCE) menjadi salah satu indikator penting karena digunakan untuk mengukur perkembangan inflasi. Data tersebut dijadwalkan menjadi perhatian pasar pada Rabu.

Selain PCE, laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat juga akan menjadi sorotan. Data ketenagakerjaan AS dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan membantu investor menilai seberapa besar ruang bagi The Fed untuk mempertahankan atau mengubah kebijakan suku bunganya.

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di sekitar 70%. Apabila data ekonomi menunjukkan inflasi masih kuat dan pasar tenaga kerja tetap solid, ekspektasi kebijakan moneter ketat dapat semakin menguat.

Sebaliknya, tanda-tanda perlambatan ekonomi dapat mengurangi tekanan terhadap emas melalui penurunan ekspektasi suku bunga dan yield obligasi.

Level US$4.000 Menjadi Perhatian Pasar

Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, level US$4.000 per ounce menjadi area psikologis yang penting untuk diperhatikan.

Apabila yield Treasury tetap berada pada level tinggi, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, apabila tekanan di pasar obligasi semakin mereda dan investor kembali meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, emas dapat memperoleh ruang untuk melakukan pemulihan.

Untuk sementara, arah emas akan sangat bergantung pada kombinasi antara pergerakan yield Treasury, ekspektasi suku bunga The Fed, data inflasi dan ketenagakerjaan AS, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!bestprofit futures

 
 
 

Comments


  • Grey Google+ Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon

© 2023 by Talking Business.  Proudly created with Wix.com

​

bottom of page