top of page
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • LinkedIn Social Icon
  • Facebook Social Icon
Search

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Konflik AS-Iran

  • PT Bestprofit Futures Malang
  • 9 hours ago
  • 3 min read

Bestprofit (8/5) – Harga emas menunjukkan resiliensi yang luar biasa pada sesi perdagangan Asia, Jumat (08/05/2026). Di tengah fluktuasi pasar komoditas, emas spot terpantau diperdagangkan di kisaran $4.708 per ons, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3% pada pagi hari di Singapura. Meskipun sempat mengalami tekanan pada sesi sebelumnya, secara akumulatif mingguan, sang logam mulia ini masih mencatatkan performa positif dengan kenaikan sebesar 1,8%.

Stabilitas ini bukanlah tanpa alasan. Pasar saat ini sedang terjepit di antara dua kekuatan besar: eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang mendorong permintaan aset aman (safe haven), dan tekanan dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat akibat ancaman inflasi energi.

Gagalnya Diplomasi dan Ketegangan di Selat Hormuz

Beberapa waktu lalu, pasar sempat diwarnai optimisme mengenai kemungkinan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur arteri perdagangan energi dunia yang paling krusial. Namun, harapan tersebut sirna seketika setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap kapal Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Eskalasi militer mencapai titik baru setelah AS melancarkan serangan balasan terhadap target-target militer di Iran. Langkah ini diambil menyusul laporan bahwa pihak Iran melakukan penembakan terhadap tiga kapal perusak AS yang tengah melintas. Insiden ini secara otomatis memutus rantai negosiasi yang sedang berlangsung. Saat ini, Washington dilaporkan masih menunggu respons resmi dari Teheran terkait proposal pembukaan jalur tersebut, namun suasana di lapangan jauh dari kata damai.

Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas sebagai Pelindung Nilai di Tengah Risiko Perang

Secara historis, emas selalu menjadi instrumen pilihan utama investor ketika bau mesiu mulai tercium di panggung geopolitik. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan pasokan energi melalui Selat Hormuz memberikan alasan kuat bagi pelaku pasar untuk mengalihkan aset mereka ke emas.

Gangguan pada jalur distribusi energi bukan hanya masalah logistik, tetapi juga masalah ekonomi makro yang sistemik. Jika Selat Hormuz tersumbat, harga minyak dunia diprediksi akan melonjak, yang pada gilirannya akan memicu gelombang inflasi baru secara global. Dalam skenario di mana mata uang kertas berisiko terdepresiasi karena inflasi tinggi, emas mempertahankan daya belinya.

Dilema Suku Bunga: “Higher for Longer” vs Emas

Meskipun narasi perang memberikan sentimen positif bagi emas, ada faktor penghambat kuat yang menahan harga emas untuk tidak melonjak terlalu liar. Faktor tersebut adalah kebijakan suku bunga bank sentral, khususnya The Fed.

Sejak konflik ini meletus, harga emas sebenarnya telah mengalami penurunan kumulatif sekitar 11% dari puncaknya. Mengapa? Karena pasar khawatir lonjakan harga energi justru akan memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer) guna meredam inflasi.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding asset). Oleh karena itu, ketika suku bunga tetap tinggi, biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi lebih mahal dibandingkan menempatkan dana di obligasi pemerintah atau deposito yang menawarkan bunga tinggi.

Dominasi Dolar AS dan Indeks Bloomberg

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah pergerakan Indeks Dolar Bloomberg. Pada sesi Jumat pagi, indeks dolar terpantau naik 0,1%. Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar, penguatan mata uang “Greenback” cenderung membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Namun, jika dilihat dalam perspektif satu pekan, indeks dolar masih mencatatkan penurunan 0,2%. Ketidaksinkronan antara penguatan harian dolar dan kenaikan mingguan emas menunjukkan bahwa pasar sedang dalam posisi “wait and see”, menyeimbangkan antara risiko geopolitik dan proyeksi ekonomi AS.

Menanti Data Nonfarm Payrolls (NFP)

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat malam. Data tenaga kerja ini sering kali menjadi kompas bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Beberapa pejabat The Fed baru-baru ini memberikan komentar bernada hawkish (ketat), meredam harapan pasar akan adanya pelonggaran kebijakan atau penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Mereka berpendapat bahwa ketidakpastian yang dipicu oleh perang menambah risiko inflasi yang sulit diprediksi.

Jika data NFP menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih sangat kuat, maka ekspektasi kenaikan atau pertahanan suku bunga tinggi akan semakin solid. Hal ini berpotensi memberikan tekanan jangka pendek pada harga emas. Sebaliknya, jika data menunjukkan pendinginan ekonomi, emas bisa mendapatkan momentum untuk reli lebih lanjut.

Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!bestprofit futures

 
 
 

Comments


  • Grey Google+ Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon

© 2023 by Talking Business.  Proudly created with Wix.com

bottom of page