top of page
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • LinkedIn Social Icon
  • Facebook Social Icon
Search

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Sanksi Iran dan Isu Tarif AS

  • PT Bestprofit Futures Malang
  • 1 hour ago
  • 4 min read

Bestprofit (26/2) – Harga emas bergerak stabil pada perdagangan awal, ketika pelaku pasar menimbang ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dampak kebijakan tarif AS terhadap perdagangan global. Emas bertahan di sekitar $5.170 per ons setelah mengakhiri sesi sebelumnya dengan kenaikan 0,4%, menandakan minat defensif masih terjaga di tengah volatilitas headline yang terus bergulir di pasar keuangan global.

Kondisi ini mencerminkan karakter emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang cenderung diminati saat ketidakpastian meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan menjadi dua faktor utama yang membentuk arah pergerakan harga logam mulia tersebut.

Ketegangan Timur Tengah Perkuat Daya Tarik Safe Haven

Sentimen safe haven mendapat dukungan setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 30 entitas yang dituding mendukung penjualan minyak dan pasokan senjata Iran. Langkah ini meningkatkan tekanan terhadap Teheran menjelang putaran terbaru pembicaraan nuklir yang dijadwalkan berlangsung Kamis sore di Jenewa.

Sanksi tambahan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa tensi antara Washington dan Teheran belum mereda. Setiap eskalasi di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu wilayah paling strategis bagi pasokan energi global, berpotensi memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia. Ketidakpastian ini secara historis mendorong investor untuk mengalihkan sebagian portofolionya ke aset aman seperti emas.

Bagi pelaku pasar, risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang dipantau. Ketika ketegangan meningkat, volatilitas di pasar saham dan mata uang biasanya ikut terdorong naik. Dalam situasi seperti itu, emas sering kali menjadi penyeimbang risiko, karena nilainya tidak bergantung langsung pada kinerja korporasi atau kebijakan satu negara tertentu.

Kunjungi juga : bestprofit futures

Agenda Tarif AS Kembali Bayangi Pasar Global

Di sisi lain, ketidakpastian juga datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut terus mendorong langkah untuk mempertahankan agenda tarifnya. Isu ini kembali mencuat setelah Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa Trump akan menandatangani arahan untuk menaikkan tarif global menjadi 15% “jika sesuai”.

Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa arah kebijakan tarif AS masih dapat berubah dengan cepat, tergantung dinamika politik dan negosiasi dagang yang sedang berlangsung. Bagi pasar global, ketidakpastian kebijakan tarif berpotensi menimbulkan ketegangan baru dengan mitra dagang utama serta mengganggu arus perdagangan internasional.

Tarif yang lebih tinggi dapat memicu kenaikan biaya impor, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan mendorong tekanan inflasi. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan yang lebih kompleks bagi investor. Dalam situasi seperti ini, emas kembali menjadi pilihan menarik karena dianggap mampu menjaga nilai di tengah gejolak ekonomi.

Pergerakan Harga Logam Mulia dan Dolar AS

Pada pukul 07.29 waktu Singapura, harga emas spot tercatat naik tipis 0,1% ke level $5.170,75 per ons. Kenaikan ini relatif moderat, mencerminkan sikap hati-hati investor yang masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari dua isu utama: geopolitik dan kebijakan tarif.

Sementara itu, harga perak relatif stabil di $89,16 per ons. Logam mulia lainnya seperti platinum dan paladium mencatat kenaikan, menunjukkan adanya minat yang cukup luas di sektor logam mulia. Kenaikan pada platinum dan paladium juga dapat dikaitkan dengan prospek permintaan industri, khususnya di sektor otomotif dan manufaktur.

Di pasar mata uang, Bloomberg Dollar Spot Index menutup sesi sebelumnya dengan penurunan 0,2%. Pelemahan dolar AS ini turut membantu menopang harga emas. Secara umum, emas dan dolar memiliki hubungan terbalik; ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga permintaannya cenderung meningkat.

Emas sebagai Instrumen Lindung Nilai

Emas telah lama dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi normal, pergerakan emas sering kali dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga dan kebijakan bank sentral. Namun dalam beberapa waktu terakhir, faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan tampak lebih dominan.

Ketika risiko global meningkat, investor institusi maupun ritel biasanya meningkatkan alokasi pada aset defensif. Selain emas fisik, permintaan juga tercermin pada instrumen berbasis emas seperti exchange-traded fund (ETF). Arus masuk dana ke produk-produk tersebut menjadi indikator tambahan bahwa minat terhadap emas masih solid.

Di tengah ketidakpastian tarif dan sanksi internasional, emas dipandang sebagai aset yang relatif bebas dari risiko gagal bayar dan risiko politik domestik. Inilah yang membuatnya tetap relevan, bahkan ketika imbal hasil obligasi atau instrumen keuangan lain mengalami fluktuasi.

Volatilitas Headline dan Strategi Investor

Salah satu ciri pasar saat ini adalah tingginya sensitivitas terhadap berita atau headline. Pernyataan pejabat pemerintah, perkembangan negosiasi, hingga laporan sanksi baru dapat langsung memicu pergerakan harga dalam waktu singkat.

Bagi investor jangka pendek, kondisi ini membuka peluang trading berbasis momentum. Namun bagi investor jangka panjang, volatilitas headline justru mempertegas pentingnya diversifikasi portofolio. Emas sering ditempatkan sebagai komponen strategis untuk mengurangi risiko keseluruhan portofolio.

Kenaikan 0,4% pada sesi sebelumnya dan stabilnya harga di awal perdagangan menunjukkan bahwa pasar belum melihat alasan kuat untuk melakukan aksi jual besar-besaran. Sebaliknya, posisi emas yang bertahan di level tinggi mencerminkan keyakinan bahwa risiko global belum sepenuhnya mereda.

Prospek Jangka Pendek: Menunggu Kepastian

Dalam jangka pendek, arah harga emas kemungkinan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan pembicaraan nuklir Iran dan kebijakan tarif AS. Jika ketegangan meningkat atau negosiasi gagal mencapai titik temu, permintaan safe haven berpotensi menguat.

Sebaliknya, jika ada sinyal deeskalasi atau kejelasan kebijakan yang menenangkan pasar, harga emas bisa mengalami koreksi terbatas. Meski demikian, selama ketidakpastian tetap menjadi tema utama, penurunan harga kemungkinan akan mendapat dukungan beli dari investor yang melihatnya sebagai peluang akumulasi.

Selain faktor geopolitik dan tarif, pelaku pasar juga akan mencermati pergerakan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter. Kombinasi dari seluruh faktor ini akan menentukan apakah emas mampu mempertahankan level di atas $5.170 atau bergerak menuju level baru dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Stabilnya harga emas di kisaran $5.170 per ons mencerminkan keseimbangan antara kehati-hatian dan minat defensif di pasar global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sanksi terhadap entitas terkait Iran, serta ketidakpastian arah kebijakan tarif AS menjadi katalis utama yang menopang harga.

Pelemahan dolar AS turut memberikan dukungan tambahan bagi logam mulia. Dengan volatilitas yang masih tinggi dan banyaknya faktor risiko yang belum terselesaikan, emas tetap berada dalam posisi strategis sebagai aset lindung nilai.

Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada perkembangan negosiasi internasional dan keputusan kebijakan perdagangan. Selama ketidakpastian tersebut bertahan, emas kemungkinan besar tetap menjadi salah satu instrumen yang paling diperhatikan oleh investor global.

Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!bestprofit futures

 
 
 

Comments


  • Grey Google+ Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon

© 2023 by Talking Business.  Proudly created with Wix.com

bottom of page