top of page
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • LinkedIn Social Icon
  • Facebook Social Icon
Search

Bestprofit | Gold Bertahan, Warsh Jadi Penentu!

  • PT Bestprofit Futures Malang
  • 3 hours ago
  • 4 min read

Bestprofit (27/8) – Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis (27/8), setelah sebelumnya mengalami koreksi akibat data inflasi Amerika Serikat yang masih menunjukkan tekanan harga cukup tinggi. Logam mulia kembali bertahan di atas level psikologis US$4.600 per troy ons, menandakan minat beli investor masih relatif kuat meski pasar tengah menghadapi ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve. Harga emas di pasar spot tercatat naik sekitar 0,6% menjadi US$4.619,54 per troy ons. Pada awal perdagangan Asia, emas bahkan sempat menguat hingga sekitar 0,7%. Penguatan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual yang muncul setelah rilis data inflasi AS belum cukup kuat untuk membalikkan tren positif emas secara keseluruhan.

Inflasi AS Tekan Prospek Emas

Koreksi yang terjadi sebelumnya tidak terlepas dari data inflasi Amerika Serikat yang memperlihatkan bahwa tekanan harga masih berada di atas target Federal Reserve. Kondisi tersebut membuat investor kembali mempertimbangkan kemungkinan bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga jika inflasi tidak kunjung mereda. Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Ketika yield instrumen berbasis dolar seperti Treasury meningkat, sebagian investor cenderung mengalihkan dana dari emas menuju aset yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi. Selain itu, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat juga dapat meningkatkan daya tarik dolar AS. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Tekanan ganda dari penguatan dolar dan kenaikan yield Treasury inilah yang sebelumnya mendorong emas menghentikan reli selama lima hari berturut-turut.

Kunjungi juga : bestprofit futures

Koreksi Emas Masih Terbatas

Meski menghadapi tekanan dari sisi fundamental, penurunan harga emas sejauh ini masih tergolong terbatas. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa investor belum sepenuhnya meninggalkan aset safe haven tersebut. Sepanjang Agustus, harga bullion masih mencatat kenaikan sekitar 14%. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa faktor pendukung emas tidak hanya berasal dari ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve, tetapi juga dari meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan fiskal Amerika Serikat. Salah satu katalis yang menjadi perhatian pasar adalah langkah mengejutkan Departemen Keuangan AS di pasar obligasi. Program pembelian kembali atau buyback Treasury dengan tenor panjang kembali memunculkan pertanyaan mengenai kondisi fiskal pemerintah AS. Situasi tersebut berpotensi memperkuat narasi yang dikenal sebagai debasement trade, yakni strategi investasi yang memanfaatkan aset riil seperti emas sebagai pelindung nilai ketika investor mencemaskan penurunan nilai mata uang atau memburuknya kondisi fiskal.

Arus Investasi ke Emas Masih Kuat

Selain faktor makroekonomi, momentum investasi juga menjadi penopang penting bagi harga emas. Secara teknikal, harga bullion masih berada di atas moving average 200 hari. Posisi tersebut menunjukkan bahwa struktur tren jangka menengah masih cenderung positif. Indikator tersebut penting karena level moving average 200 hari sering digunakan investor untuk mengidentifikasi arah tren utama suatu aset. Selama harga emas mampu bertahan di atas level tersebut, peluang berlanjutnya tren bullish masih terbuka meskipun terjadi koreksi dalam jangka pendek. Dukungan juga datang dari pasar ETF berbasis emas. ETF atau exchange-traded fund memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap emas tanpa harus membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung. ETF berbasis emas yang dipantau Bloomberg tercatat menerima tambahan lebih dari 28 ton pada pekan lalu. Arus masuk tersebut menjadi yang terbesar sejak Januari. Besarnya aliran dana tersebut memperlihatkan bahwa permintaan investasi terhadap emas masih solid. Kondisi ini memberikan fondasi yang cukup kuat bagi harga emas untuk mempertahankan tren kenaikan, meskipun pasar menghadapi ketidakpastian dari arah kebijakan moneter AS.

Jackson Hole Jadi Fokus Utama Pasar

Perhatian investor kini beralih ke pertemuan Jackson Hole. Pasar menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat karena pernyataannya berpotensi memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS dalam beberapa bulan mendatang. Investor terutama akan mencermati bagaimana The Fed menilai inflasi yang masih persisten. Jika Warsh menyampaikan pandangan yang lebih hawkish atau menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan, dolar AS dan yield Treasury berpotensi kembali menguat. Skenario tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga emas. Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang memegang emas, sementara penguatan dolar membuat bullion menjadi lebih mahal bagi investor di luar Amerika Serikat. Sebaliknya, apabila Warsh menggunakan nada yang lebih berhati-hati dan membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, emas berpotensi mendapatkan momentum baru. Pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga, yang biasanya menjadi katalis positif bagi logam mulia.

Emas Berada dalam Fase Bullish-Konsolidatif

Dari perspektif teknikal dan sentimen pasar, emas saat ini dapat dikategorikan berada dalam fase bullish-konsolidatif. Harga memang mengalami koreksi setelah reli panjang, tetapi kemampuan bullion untuk kembali bertahan di atas US$4.600 menunjukkan bahwa buyer masih aktif. Area US$4.600 menjadi level penting untuk diperhatikan. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, struktur kenaikan masih relatif terjaga. Namun, ruang penguatan dalam jangka pendek berpotensi terbatas sebelum pasar mendapatkan petunjuk baru dari Jackson Hole. Jika sentimen yang disampaikan The Fed cenderung hawkish, emas berpotensi menghadapi tekanan dari kenaikan dolar dan yield Treasury. Sebaliknya, sinyal yang lebih dovish atau berhati-hati dapat membuka peluang bagi emas untuk kembali menguji area US$4.650 hingga US$4.700 per troy ons.

Prospek Harga Emas Berikutnya

Pergerakan emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada kombinasi antara data ekonomi AS, arah dolar, pergerakan yield Treasury, serta komunikasi Federal Reserve. Investor juga akan terus mencermati arus dana ke ETF emas sebagai indikator minat investasi terhadap bullion. Dengan kenaikan sekitar 14% sepanjang Agustus, emas memang sudah berada pada level yang tinggi sehingga risiko aksi ambil untung tetap perlu diperhitungkan. Namun, arus investasi yang kuat dan posisi harga di atas moving average 200 hari menunjukkan bahwa tren jangka menengah belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan yang signifikan. Untuk saat ini, US$4.600 menjadi area pertahanan penting bagi emas. Selama level tersebut mampu dipertahankan, peluang penguatan menuju US$4.650–US$4.700 masih terbuka. Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat setelah Jackson Hole dan emas kehilangan support tersebut, pasar perlu mewaspadai potensi konsolidasi yang lebih dalam. Dengan demikian, perdagangan emas pada akhir pekan ini akan menjadi pertarungan antara kekuatan fundamental bullish jangka menengah dan tekanan dari ekspektasi suku bunga AS. Jackson Hole kemungkinan menjadi katalis utama yang menentukan apakah emas mampu melanjutkan reli atau harus memasuki fase konsolidasi terlebih dahulu.

Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!bestprofit futures 

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


  • Grey Google+ Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon

© 2023 by Talking Business.  Proudly created with Wix.com

bottom of page