Bestprofit | Pasar Berbalik, Emas Bangkit
- PT Bestprofit Futures Malang
- 2 hours ago
- 4 min read
Bestprofit (9/2) – Harga emas kembali mencuri perhatian pasar global. Setelah sempat tertekan tajam dalam sepekan terakhir yang penuh gejolak, logam mulia ini bangkit dan kembali menembus level psikologis US$5.000 per ons. Kebangkitan ini terjadi seiring masuknya para dip-buyers—investor yang berburu harga murah—yang memanfaatkan koreksi dalam sebagai peluang akumulasi.

Pada awal perdagangan Asia, spot gold sempat melonjak hingga 1,7% dan bergerak di sekitar US$5.028 per ons. Kenaikan emas juga diikuti oleh logam mulia lain seperti perak, yang ikut menguat di tengah membaiknya sentimen risiko terhadap aset lindung nilai.
Pergerakan ini menandai babak baru setelah pekan sebelumnya emas mengalami volatilitas ekstrem, yang oleh banyak pelaku pasar disebut sebagai salah satu fase paling “liar” dalam beberapa bulan terakhir.
Aksi Dip-Buying Jadi Pemicu Rebound Emas
Kenaikan harga emas kali ini tidak lepas dari masuknya investor yang melihat penurunan harga sebelumnya sebagai peluang. Setelah reli besar di awal tahun yang membawa emas ke rekor tertinggi di akhir Januari, koreksi tajam memicu aksi jual panik dan likuidasi posisi spekulatif.
Namun, bagi investor jangka menengah dan panjang, koreksi tersebut justru membuka ruang masuk yang lebih menarik. Strategi buy on weakness kembali dimainkan, terutama oleh institusi dan investor yang masih percaya pada fundamental jangka panjang emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, pelemahan mata uang, dan ketidakpastian geopolitik.
Masuknya dip-buyers ini menjadi penopang utama rebound, sekaligus menunjukkan bahwa minat terhadap emas belum benar-benar pudar meski volatilitas tinggi masih membayangi pasar.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Sentimen Jepang Ikut Dorong Daya Tarik Emas
Selain faktor teknikal dan aksi beli spekulatif, sentimen makro dari Jepang turut memperkuat kenaikan emas. Kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi memunculkan ekspektasi bahwa arah kebijakan fiskal Jepang ke depan akan lebih longgar dan ekspansif.
Pasar menilai kebijakan fiskal yang longgar, dipadukan dengan kebijakan moneter yang tetap akomodatif, berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar yen. Faktanya, yen masih berada dalam posisi lemah terhadap dolar AS.
Dalam kondisi seperti ini, emas kerap dipandang sebagai “penyimpan nilai” (store of value) yang lebih aman ketika mata uang fiat melemah. Melemahnya yen tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memperkuat argumen global bahwa ketidakseimbangan mata uang masih menjadi isu utama—sebuah lingkungan yang historisnya kondusif bagi emas.
Dari Euforia ke Koreksi Tajam
Sebelum rebound ini terjadi, emas sempat mengalami kejatuhan tajam dari rekor tertinggi yang dicapai pada 29 Januari. Reli besar sebelumnya dinilai terlalu cepat dan terlalu jauh, sehingga memicu aksi ambil untung besar-besaran.
Per Jumat lalu, harga emas tercatat masih turun sekitar 11% dari puncaknya, meski secara year-to-date (YTD) tetap menguat sekitar 15%. Angka ini mencerminkan betapa ekstremnya fluktuasi yang terjadi dalam waktu singkat.
Sejumlah analis menilai pergerakan harga yang sangat agresif dalam beberapa hari terakhir tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor spekulatif dan positioning pasar yang terlalu padat.
Peran Trader China dalam Volatilitas
Sorotan khusus juga tertuju pada aktivitas trader dari China. Beberapa pelaku pasar menilai bahwa partisipasi agresif investor dan trader China ikut memperbesar amplitudo pergerakan harga emas, baik saat reli maupun saat koreksi.
Lonjakan volume perdagangan dari Asia, terutama melalui produk derivatif dan kontrak berjangka, mempercepat pergerakan harga dan memperbesar volatilitas intraday. Dalam kondisi pasar yang sudah “panas”, tambahan arus spekulatif ini membuat harga emas bergerak lebih liar dari biasanya.
Meski demikian, volatilitas jangka pendek ini tidak serta-merta menghapus narasi bullish jangka panjang yang masih melekat pada emas.
Permintaan Jangka Panjang Tetap Jadi Fondasi
Di balik pergerakan yang masih “choppy”, emas perlahan menunjukkan tanda stabilisasi. Saat ini, harga telah memangkas sekitar setengah dari penurunan pasca-rout, sebuah sinyal bahwa permintaan jangka panjang masih aktif menopang pasar.
Salah satu faktor kunci datang dari sisi permintaan resmi. Bank sentral China tercatat melanjutkan pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut, mempertegas bahwa akumulasi cadangan emas masih menjadi strategi jangka panjang otoritas moneter negara tersebut.
Pembelian konsisten oleh bank sentral menjadi bantalan penting bagi harga emas, karena mencerminkan permintaan yang relatif tidak sensitif terhadap fluktuasi harga jangka pendek.
Fokus Pasar Beralih ke Data Ekonomi AS
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat yang krusial. Dalam waktu dekat, pelaku pasar menanti laporan tenaga kerja Januari yang dijadwalkan rilis pada Rabu, disusul data inflasi pada Jumat.
Data-data ini akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Setiap sinyal perlambatan ekonomi atau penurunan tekanan inflasi berpotensi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga, yang umumnya positif bagi emas.
Sebaliknya, data yang terlalu kuat dapat kembali menekan logam mulia, terutama jika pasar menilai The Fed perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Isu Independensi The Fed Jadi Bumbu Tambahan
Selain data ekonomi, pasar juga mencermati isu seputar independensi The Fed. Pernyataan Kevin Warsh, yang kembali menyinggung perlunya kesepakatan baru antara bank sentral AS dan Departemen Keuangan, menambah lapisan ketidakpastian dalam narasi kebijakan moneter.
Wacana ini membuka diskusi tentang sejauh mana kebijakan fiskal dan moneter akan saling beririsan ke depan. Ketika independensi bank sentral dipertanyakan—bahkan hanya sebagai isu wacana—emas biasanya mendapat dorongan tambahan sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan.
Emas Masih Menarik, Tapi Jalan Tetap Berliku
Dengan kombinasi antara aksi dip-buying, sentimen makro global, permintaan bank sentral, dan ketidakpastian kebijakan, emas kembali menunjukkan daya tahannya. Meski volatilitas tinggi belum sepenuhnya mereda, banyak pelaku pasar menilai fase koreksi tajam kemarin lebih menyerupai reset daripada perubahan tren jangka panjang.
Selama ketidakpastian global, pelemahan mata uang, dan risiko kebijakan masih menghantui pasar, emas kemungkinan tetap menjadi aset yang relevan—meski dengan perjalanan harga yang tidak akan mulus.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!bestprofit futures





Comments