Bestprofit | Bank Besar Bullish, Emas Masih Bimbang
- PT Bestprofit Futures Malang
- 2 hours ago
- 4 min read
Bestprofit (18/2) – Harga emas bergerak relatif stabil setelah mencatat penurunan selama dua hari beruntun, di tengah aktivitas perdagangan yang cenderung tipis akibat libur Tahun Baru Imlek di sejumlah negara Asia. Minimnya partisipasi pelaku pasar membuat likuiditas menurun, sehingga pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek meskipun tanpa katalis fundamental yang besar.

Pada awal perdagangan, emas batangan berada di kisaran US$4.880 per ons, setelah sebelumnya terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi berturut-turut. Penurunan ini terjadi seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan daya tarik logam mulia tersebut. Dalam kondisi pasar yang sepi, pergerakan harga dapat menjadi lebih fluktuatif karena volume transaksi yang rendah memperbesar dampak setiap aksi beli atau jual.
Dampak Penguatan Dolar AS
Kinerja emas dalam beberapa hari terakhir sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks utama dolar sempat menguat hingga 0,4% sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan bagi emas karena logam mulia dihargakan dalam mata uang tersebut. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun.
Hubungan terbalik antara emas dan dolar merupakan pola klasik di pasar keuangan global. Saat dolar menguat karena ekspektasi suku bunga tinggi atau ketahanan ekonomi AS, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar. Sebaliknya, ketika dolar melemah, emas sering kali mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Dari Rekor Tertinggi ke Koreksi Tajam
Sebelumnya, reli kuat membawa emas mencetak rekor baru di atas US$5.595 per ons pada akhir Januari. Namun, lonjakan tersebut dinilai terlalu cepat dan memicu kondisi pasar yang “overbought” atau jenuh beli. Koreksi tajam pun tak terhindarkan, dengan harga sempat merosot mendekati US$4.400 hanya dalam dua sesi perdagangan.
Pergerakan ekstrem ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan sentimen. Setelah kenaikan signifikan, banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan, memicu aksi jual besar-besaran. Meski emas telah pulih sebagian dari titik terendahnya, analis menilai logam mulia ini belum menemukan level support yang benar-benar kokoh untuk menahan tekanan lanjutan.
Prospek Jangka Menengah Masih Positif
Di tengah volatilitas jangka pendek, sejumlah bank global tetap optimistis terhadap prospek emas. Institusi seperti BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan tren kenaikan masih berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.
Faktor-faktor pendukung yang disebut masih solid antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, pergeseran minat investor dari obligasi dan mata uang tertentu, serta kekhawatiran terkait independensi bank sentral Amerika Serikat. Dalam situasi ketidakpastian global, emas kerap menjadi aset pilihan untuk melindungi nilai kekayaan.
Sorotan pada Kebijakan Moneter The Fed
Dalam jangka pendek, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Setiap pernyataan pejabat bank sentral menjadi petunjuk penting bagi pelaku pasar untuk memperkirakan langkah selanjutnya terkait suku bunga. Ekspektasi pemangkasan suku bunga umumnya menjadi sentimen positif bagi emas, karena logam ini tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Ketika suku bunga turun, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah dibandingkan instrumen berbunga seperti obligasi. Oleh karena itu, prospek pelonggaran moneter sering kali mendorong kenaikan harga emas.
Emas sempat menguat singkat pada Jumat lalu setelah data inflasi menunjukkan tren moderat. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral memiliki ruang untuk menurunkan biaya pinjaman dalam waktu dekat.
Pernyataan Pejabat Federal Reserve
Komentar terbaru dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran beragam. Gubernur The Fed, Michael Barr, menyatakan bahwa suku bunga sebaiknya tetap stabil “untuk beberapa waktu” hingga terdapat bukti lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target 2%. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian otoritas moneter dalam memastikan stabilitas harga.
Di sisi lain, Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai masih ada peluang penurunan suku bunga tahun ini apabila inflasi terus menunjukkan tren melandai. Pernyataan ini membuka ruang optimisme bagi pasar emas, meskipun belum memberikan kepastian waktu yang jelas.
Perbedaan nada dalam pernyataan pejabat bank sentral tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter masih sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk. Investor pun akan mencermati rilis data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi sebagai penentu arah berikutnya.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan bervariasi. Pada pukul 08.51 waktu Singapura, harga emas spot tercatat nyaris tidak berubah di US$4.880,18 per ons. Sementara itu, perak turun sekitar 1% ke US$72,83 per ons. Platinum menguat 0,9%, sedangkan palladium naik 0,5%.
Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar komoditas yang dipengaruhi faktor serupa, seperti nilai tukar dolar dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global. Namun, masing-masing logam juga memiliki faktor fundamental spesifik, seperti permintaan industri dan pasokan tambang, yang dapat memengaruhi harga secara berbeda.
Likuiditas Rendah dan Potensi Volatilitas
Perdagangan yang tipis selama libur panjang di Asia meningkatkan potensi volatilitas. Dalam kondisi likuiditas rendah, transaksi dalam jumlah relatif kecil dapat memicu pergerakan harga yang signifikan. Hal ini membuat pasar lebih rentan terhadap rumor, spekulasi, atau pernyataan pejabat yang biasanya tidak terlalu berdampak saat volume perdagangan normal.
Investor jangka pendek cenderung berhati-hati dalam situasi seperti ini, sementara pelaku pasar jangka panjang mungkin melihat fluktuasi sebagai peluang akumulasi, terutama jika fundamental jangka menengah tetap mendukung.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Ke depan, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor global. Ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, serta dinamika inflasi akan menjadi variabel kunci. Jika inflasi terus menurun dan membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga, emas berpotensi kembali menguji level resistensi penting.
Namun, jika data ekonomi AS tetap kuat dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, tekanan terhadap emas bisa berlanjut. Dalam konteks ini, volatilitas kemungkinan tetap tinggi hingga pasar mendapatkan kepastian arah kebijakan.
Secara keseluruhan, meskipun harga emas saat ini bergerak relatif stabil setelah koreksi tajam, sentimen pasar masih rapuh. Optimisme jangka menengah tetap ada, didukung oleh proyeksi sejumlah bank besar dan ketidakpastian global. Akan tetapi, dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan terus bergerak dalam kisaran terbatas sambil menunggu katalis baru yang lebih kuat.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!





Comments